FAKTOR PENYEBAB DAN PROSES TERJADINYA GANGGUAN JIWA


FAKTOR PENYEBAB

DAN PROSES TERJADINYA GANGGUAN JIWA

SKIZOFRENIA SEBAGI BENTUK GANGGUAN JIWA
Skizofrenia merupakan bahasan yang menarik perhatian pada konferensi tahunan “The
American Psychiatric Association/APA” di Miami, Florida, Amerika Serikat, Mei 1995 lalu. Sebab di
AS angka pasien skizofrenia cukup tinggi (lifetime prevalance rates) mencapai 1/100 penduduk.
Sebagai perbandingan, di Indonesia bila pada PJPT I angkanya adalah 1/1000 penduduk maka
proyeksinya pada PJPT II, 3/1000 penduduk, bahkan bisa lebih besar lagi.
Berdasarkan data di AS

  1. (1) Setiap tahun terdapat 300.000 pasien skizofrenia mengalami episode akut;
  2. (2) Prevalensi skizofrenia lebih tinggi dari penyakit Alzheimer, multipel skelosis, pasien diabtes yangmemakai insulin, dan penyakit otot (muscular dystrophy);
  3. (3) 20%-50% pasien skizofrenia melakukan percobaan bunuh diri, dan 10% di antaranya berhasil (mati bunuh diri);
  4. (4) angka kematian pasien skizofrenia 8 kali lebih tinggi dari angka kematian penduduk pada
    umumnya.



FAKTOR PENYEBAB SKIZOFRENIA

Hingga sekarang belum ditemukan penyebab (etilogi) yang pasti mengapa seseorang
menderita skizofrenia, padahal orang lain tidak. Ternyata dari penelitian-penelitian yang telah
dilakukan tidak ditemukan faktor tunggal. Penyebab skizofrenia menurut penelitian mutakhir antara
lain :
  1. 1. Faktor genetik;
  2. 2. Virus;
  3. 3. Auto antibody;
  4. 4. Malnutrisi.
Sejauh manakah peran genetik pada skizofrenia ? Dari penelitian diperoleh gambaran sebagai
berikut :
  1. (1) Studi terhadap keluarga menyebutkan pada orang tua 5,6%, saudara kandung 10,1%; anak-anak
    12,8%; dan penduduk secara keseluruhan 0,9%.
  2. (2) Studi terhadap orang kembar (twin) menyebutkan pada kembar identik 59,20%; sedangkan
    kembar fraternal 15,2%.
Penelitian lain menyebutkan bahwa gangguan pada perkembangan otak janin juga mempunyai
peran bagi timbulnya skizofrenia kelak dikemudian hari. Gangguan ini muncul, misalnya, karena
kekurangan gizi, infeksi, trauma, toksin dan kelainan hormonal.
Penelitian mutakhir menyebutkan bahwa meskipuna ada gen yang abnormal, skizofrenia tidak
akan muncul kecuali disertai faktor-faktor lainnya yang disebut epigenetik faktor.
Kesimpulannya adalah bahwa skizofrenia muncul bila terjadi interaksi antara abnormal gen
dengan :
  • Virus atau infeksi lain selama kehamilan yang dapat menganggu perkembangan otak janin;
  • Menurunnya autoimun yang mungkin disebabkan infeksi selama kehamilan;
  • Komplikasi kandungan; dan
  • Kekurangan gizi yang cukup berat, terutama pada trimester kehamilan.
Selanjutnya dikemukakan bahwa orang yang sudah mempunyai faktor epigenetik tersebut, bila
mengalami stresor psikososial dalam kehidupannya, maka risikonya lebih besar untuk menderita
skizofrenia dari pada orang yang tidak ada faktor epigenetik sebelumnya.



PENYEBAB UMUM GANGGUAN JIWA
Manusia bereaksi secara keseluruhan, secara holistik, atau dapat dikatakan juga, secara
somato-psiko-sosial. Dalam mencari penyebab gangguan jiwa, maka ketiga unsur ini harus
diperhatikan. Gangguan jiwa artinya bahwa yang menonjol ialah gejala-gejala yang patologik dari
unsur psike. Hal ini tidak berarti bahwa unsur yang lain tidak terganggu.
Sekali lagi, yang sakit dan menderita ialah manusia seutuhnya dan bukan hanya badannya, jiwanya atau lingkungannya.
Hal-hal yang dapat mempengaruhi perilaku manusia ialah keturunan dan konstitusi, umur dan
sex, keadaan badaniah, keadaan psikologik, keluarga, adat-istiadat, kebudayaan dan kepercayaan,
pekerjaan, pernikahan dan kehamilan, kehilangan dan kematian orang yang dicintai, agresi, rasa
permusuhan, hubungan antar amanusia, dan sebagainya. Tabel di bawah ini Taksiran kasar jumlah
penderita beberapa jenis gangguan jiwa yang ada dalam satu tahun di Indonesia dengan penduduk 130
juta orang.




  • Psikosa fungsional 520.000





  • Sindroma otak organik akut 65.000




  • Sindroma otak organik menahun 130.000

  • Retradasi mental 2.600.000

  • Nerosa 6.500.000
  • Psikosomatik 6.500.000

  • Gangguan kepribadian 1.300.000

  • Ketergantungan obat 1.000-17.616.000


  • Biarpun gejala umum atau gejala yang menonjol itu terdapat pada unsur kejiwaan, tetapi
    penyebab utamanya mungkin di badan (somatogenik), dilingkungan sosial (sosiogenik) ataupun
    dipsike (psikogenik). Biasanya tidak terdapat penyebab tunggal, akan tetapi beberapa penyebab
    sekaligus dari berbagai unsur itu yang saling mempengaruhi atau kebetulan terjadi bersamaan, lalu
    timbullah gangguan badan ataupun jiwa. Umpamanya seorang dengan depresi, karena kurang makan
    dan tidur daya tahan badaniah seorang berkurang sehingga mengalami keradangan tenggorokan atau
    seorang dengan mania mendapat kecelakaan.
    Sebaliknya seorang dengan penyakit badaniah umpamanya keradangan yang melemahkan,
    maka daya tahan psikologiknya pun menurun sehingga ia mungkin mengalami depresi. Sudah lama
    diketahui juga, bahwa penyakit pada otak sering mengakibatkan gangguan jiwa.
    Contoh lain ialah seorang anak yang mengalami gangguan otak (karena kelahiran, keradangan dan
    sebagainya) kemudian menadi hiperkinetik dan sukar diasuh. Ia mempengaruhi lingkungannya,
    terutama orang tua dan anggota lain serumah. Mereka ini bereaksi terhadapnya dan mereka saling
    mempengaruhi.
    Sumber penyebab gangguan jiwa dipengaruhi oleh faktor-faktor pada ketiga unsur itu yang
    terus menerus saling mempengaruhi, yaitu :
    1. Faktor-faktor somatik (somatogenik)
    2. 1.1. Neroanatomi
    3. 1.2. Nerofisiologi
    4. 1.3. nerokimia
    5. 1.4. tingkat kematangan dan perkembangan organic
    6. 1.5. faktor-faktor pre dan peri – natal
    7. 2. Faktor-faktor psikologik ( psikogenik) :


    2.1. Interaksi ibu –anak : normal (rasa percaya dan rasa aman) atau abnormal berdasarkan
    kekurangan, distorsi dan keadaan yang terputus (perasaan tak percaya dan kebimbangan)
    2.2. Peranan ayah
    2.3. Persaingan antara saudara kandung
    2.4. inteligensi
    2.5. hubungan dalam keluarga, pekerjaan, permainan dan masyarakat
    2.6. kehilangan yang mengakibatkan kecemasan, depresi, rasa malu atau rasa salah
    2.7. Konsep dini : pengertian identitas diri sendiri lawan peranan yang tidak menentu
    2.8. Keterampilan, bakat dan kreativitas
    2.9. Pola adaptasi dan pembelaan sebagai reaksi terhadap bahaya
    2.10. Tingkat perkembangan emosi
    3. Faktor-faktor sosio-budaya (sosiogenik)
    3.1. Kestabilan keluarga
    3.2. Pola mengasuh anak
    3.3. Tingkat ekonomi
    3.4. Perumahan : perkotaan lawan pedesaan
    3.5. Masalah kelompok minoritas yang meliputi prasangka dan fasilitas kesehatan, pendidikan
    dan kesejahteraan yang tidak memadai
    3.6. Pengaruh rasial dan keagamaan
    3.7. Nilai-nilai
    1. Faktor keturunan
    Pada mongoloisme atau sindroma Down (suatu macam retardasi mental dengan mata sipit,
    muka datar, telinga kecil, jari-jari pendek dan lain-lain) terdapat trisoma (yaitu tiga buah,
    bukan dua) pada pasangan Kromosoma No. 21.
    Sindroma Turner (dengan ciri-ciri khas : tubuh pendek, leher melebar, infantilisme sexual)
    ternyata berhubungan dengan jumlah kromosima sex yang abnormal. Gangguan yang berhubungan dengan kromosoma sex dikatakan “terikat pada sex” (“sex linked”), artinya bahwa efek genetik itu hanya terdapat pada kromosoma sex.

    Kaum wanita ternyata lebih kurang peka terhadap gangguan yang terikat pada sex, karena mereka mempunyai dua kromosoma X : bila satu tidak baik, maka yang lain biasanya akan melakukan pekerjaannya.
    Akan tetapi seorang pria hanya mempunyai satu kromosoma X dan satu kromosoma Y, dan bila salah satu tidak baik, maka terganggulah ia.
    Masih dipermasalahkan, betulkan pria dengan XYY lebih cenderung melakukan perbuatan kriminal yang kejam ?
    Konstitusi pada umumnya menunjukkan kepada keadaan biologik seluruhnya, termasuk baik
    yang diturunkan maupun yang didapati kemudian; umpamanya bentuk badan (perawakan),
    sex, temperamen, fungsi endoktrin daurat syaraf jenis darah
    Jelas bahwa hal-hal ini mempengaruhi perilaku individu secara baik ataupun tidak baik,
    umpamanya bentuk badan yang atletik atau yang kurus, tinggi badan yang terlalu tinggi
    ataupun terlalu pendek, paras muka yang cantrik ataupun jelek, sex wanita atau pria, fungsi
    hormonal yang seimbang atau yang berlebihan salah satu hormon, urat syaraf yang cepat
    reaksinya atau yang lambat sekali, dan seterusnya. Semua ini turut mempengaruhi hidup
    seseorang.
    Tabel : Faktor konstitusi dan perilaku abnormal
    Faktor konstitusi Hubungan dengan perkembangan abnormal
    Bentuk badan Tidak jelas peranannyua, tetapi disproporsi badaniah, kelemahan
    dan penampakan yang jelek umpamanya lebih sering berhubungan
    dengan gangguan jiwa daripada bentuk badan yang baik dan
    menarik
    Energi dan kegiatan Rupaya berhubungan dengan apakah individu mengembangkan
    reaksi yang agresif atau lebih menuju ke dalam terhadap stres, jadi
    lebih berhubungan dengan jenis gangguan jiwa yang timbul bila
    individu itu terganggu jiwanya
    Reaktivitas susunan
    syaraf vegetatif
    Reaktivitas emosional yang tinggi mungkin sekali berhubungan
    dengan realisasi berlebihan terhadap stres ringan dan pembentukan
    rasa takut yang tak perlu; reaktivitas emosional yang kurang, dapat
    mengakibatkan sosialisasi yang tidak sesual karena reaksi yang
    terlalu sedikit.
    Daya tahan badaniah Membantu menentukan toleransi stres biologik dan psikologik dan
    sistem organ apakah yang paling mudah terganggu. Ada individu
    yang sangat mudah terganggu sistem badaniahnya karena fungsi
    otaknya
    Sensitivitas (kepekaan) Menentukan sebagian dari jenis stres yang terhadapnya anak itu
    paling peka dan menentukan besarnya stres yang dapat ditahan
    tanpa gangguan jiwa; mempengaruhi cara anak menanggapi dunia.
    Kecerdasan dan bakat
    lain
    Mempengaruhi kesempatan anak untuk berhasil dal;am
    pertandingan/ persaingan sehingga mempengaruhi juga
    kepercayaan pada diri sendiri berdasarkan keberhasilan
    (Coleman, J.C : Abnormal Psychology and Modern life.
    Taraporevala Sons & Co., Bombay, 1970. hal. 126)
    3. Cacat Kongenital
    Cacat kongenital atau sejak lahir dapat mempengaruhi perkembangan jiwa anak, terlebih yang
    berat, seperti retardasi mental yang brat. Akan tetapi pada umumnya pengaruh cacat ini pada
    timbulnya gangguan jiwa terutama tergantung pada individu itu, bagaimana ia menilai dan
    menyesuaikan diri terhadap keadaan hidupnya yang cacat atau berubah itu.
    Orang tua dapat mempersukar penyesuaian ini dengan perlindungan yang berlebihan (proteksi
    berlebihan). Penolakan atau tuntutan yang sudah di luar kemampuan anak.
    Singkatnya : kromosoma dan “genes” yang defektif serta banyak faktor lingkungan sebelum,
    sewaktu dan sesudah lahir dapat mengakibatkan gangguan badaniah. Cacat badaniah biasanya
    dapat dilihat dengan jelas,tetapi gangguan sistim biokimiawi lebih halus dan sukar ditentukan.
    Gangguan badaniah dapat mengganggu fungsi biologik atau psikologik secara langsung atau
    dapat mempengaruhi daya tahan terahdap stres.
    4. Perkembangan Psikologik yang salah
    a. Ketidak matangan atau fixasi, yaitu inidvidual gagal berkembang lebih lanjut ke fase
    berikutnya;
    b. “Tempat-tempat lemah” yang ditinggalkan oleh pengalaman yang traumatik sebagai
    kepekaan terhadap jenis stres tertentu, atau
    c. disorsi, yaitu bila inidvidu mengembangkan sikap atau pola reaksi yang tidak sesuai atau
    gagal mencapai integrasi kepribadian yang normal. Kita akan membicarakan beberapa
    faktor dalam perkembangan psikologik yang tidak sehat
    5. Deprivasi dini
    Deprivasi maternal atau kehilangan asuhan ibu di rumah sendiri, terpisah dengan ibu atau di
    asrama, dapat menimbulkan perkembangan yang abnormal.
    Deprivasi rangsangan umum dari lingkungan, bila sangat berat, ternyata berhubungan edngan
    retardasi mental. Kekurangan protein dalam makanan, terutama dalam jangka waktu lama sebelum
    anak breumur 4 tahun, dapat mengakibatkan retardasi mental.
    Eprivasi atau frustrasi dini dapat menimbulkan “tempat-tempat yang lemah” pada jiwa, dapat
    mengakibatkan perkembangan yang salah ataupun perkembangan yang berhenti.
    Untuk perkembangan psikologik rupanya ada “masa-masa gawat”. Dalam masa ini rangsangan
    dan pengalaman belajar yang berhubungan dengannya serta pemuasan berbagai kebutuhan sangat
    perlu bagi urut-urutan perkembangan intelektual, emosional dan sosial yang normal
    6. Pola keluarga yang petagonik
    Dalam masa kanak-kanak keluarga memegang peranna yang penting dalam pembentukan
    kepriadian. Hubungan orangtua-anak yang salah atau interaksi yang patogenik dalam keluarga
    sering merupakan sumber gangguan penyesuaian diri.
    Kadang-kadang orangtua berbuat terlalu banyak untuk anak dan tidak memberi kesempatan anak
    itu berkembang sendiri. Ada kalanya orangtua berbuat terlalu sedikit dan tidak merangsang anak
    itu atau tidak memberi bimbingan dan anjuran yang dibutuhkannya. Kadang-kadang mereka
    malahan mengajarkan anak itu pola-pola yang tidak sesuai.
    Akan tetapi pengaruh cara asuhan anak tergantung pada keadaan sosial secara keseluruhan dimana
    hal itu dilakukan. Dan juga, anak-anak bereaksi secara berlainan terhadap cara yang sama dan
    tidak semua akibat adalah tetapi kerusakan dini sering diperbaiki sebagian oleh pengalaman di
    kemudian hari. Akan tetapi beberapa jenis hubungan orangtua-anak sering terdapat dalam latar
    belakang anak-anak yang terganggu, umpamanya penolakan, perlindungan berlebihan, manja
    berlebihan, tuntutan perfeksionistik, standard moral yang kaku dan tidak realistik, disiplin yang
    salah, persaingan antar saudara yang tidak sehat, contoh orangtua yang salah, ketidak-sesuaikan
    perkawinan dan rumah tangganya yang berantakan, tuntutan yang bertentangan
    Tabel Beberapa sikap orangtua yang kurang bijaksana dan pengaruhnya terhadap anak.
    SIKAP ORANGTUA PENGARUH TERHADAP PERKEMBANGAN
    KEPRIBADIAN ANAK DAN SIFAT ATAU SIKAP YANG
    MUNGKIN TIMBUL.
    1. Melindungi anak secara
    berlebihan karena
    memanjanya
    Hanya memikirkan dirinya sendiri, hanya tidak menuntut saja,
    lekas berekcil hati, tidak tahan kekecewaan. Ingin menarik
    perhatian kepada dirinya sendiri. Kurang rasa bertanggung
    jawab. Cenderung menolak peraturan dan minta dikecualikan.
    2. Melindungi anak secara
    berlebihan karena sikap
    “berkuasa” dan “harus
    tunduk saja”
    Kurang berani dalam pekerjaan, condong lekas menyerah.
    Bersikap pasif dan bergantung kepada orang lain. Ingin menjadi
    “anak emas” dan menerima saja segala perintah.
    3. Penolakan (anak tidak
    disukai)
    Merasa gelisah dan diasingkan. Bersikap melawan orang tua
    dan mencari bantuan kepada orang lain. Tidak mampu memberi
    dan menerima kasih-sayang.
    4. Menentukan normanorma
    etika dan moral
    yang terlalu tinggi
    Menilai dirinya dan hal lain juga dengan norma yang terlalu
    keras dan tinggi. Sering kaku dan keras dalam pergaulan.
    Cenderung menjadi sempurna (“perfectionnism”) dengan cara
    yang berlebihan. Lekas merasa bersalah, berdosa dan tidak
    berarti.
    5. Disiplin yang terlalu keras Menilai dan menuntut dari pada dirinya juga secara terlalu
    keras. Agar dapat meneruskan dan menyelesaikan sesuatu
    usaha dengan baik, diperlukannya sikap menghargai yang
    tinggi dari luar.
    6. Disiplin yang tak teratur
    atau yang bertentangan
    Sikap anak terhadap nilai dan normapun tak teratur. Kurang
    tetap dalam menghadapi berbagai persoalan didorong kesana
    kemari antara berbagai nilai yang bertentangan.
    Perlu diingat bahwa hubungan orangtua-anak selalu merupakan suatu interaksi (saling
    mempengaruhi), bukanlah hanya pengaruh satu arah dari orangtua ke anak
    7. Masa remaja
    Masa remaja dikenal sebagai masa gawat dalam perkembangan kepribadian, sebagai masa “badai
    dan stres”. Dalam masa ini inidvidu dihadpai dengan pertumbuhan yang cepat, perubahanperubahan
    badaniah dan pematangan sexual. Pada waktu yang sama status sosialnya juga
    mengalami perubahan, bila dahulu ia sangat tergantung kepada orangtuanya atau orang lain,
    sekarang ia harus belajar berdiri sendiri dan bertanggung jawab yang membawa dengan sendirinya
    masalah pernikahan, pekerjaan dan status sosial umum. Kebebasan yang lebih besar membawa
    tanggung jawab yang lebih besar pula.
    Perubahan-perubahan ini mengakibatkan bawha ia harus mengubah konsep tentang diri sendiri.
    Tidak jarang terjadi “krisis identitas” (Erikson, 1950). Ia hasu memantapkan dirinya sebagai
    seorang individu yang berkepribadian lepas dari keluarganya, ia harus menyelesaikan masalah
    pendidikan, pernikahan dan kehidupan dalam masyarakat. Bila ia tidak dibekali dengan pegangan
    hidup yang kuat, maka ia akan mengalami “difusi identitas”, yaitu ia bingung tentang “apakah
    sbenarnya ia ini” dan “buat apakah sebebarnya hidup ini”. Sindroma ini disebut juga “anomi”,
    remaja itu merasa terombang ambing, terapung-apung dalam hidup ini tanpa tujuan tertentu.
    Banyak remaja sebenarnya tidak membernontak, akan tetapi hanya sekedar sedang mencari arti
    dirinya sendiri serta pegangan hidup yang berarti bagi mereka. Hal “badai dan stres” bagi kaum
    remaja ini sebagian besar berakar pada struktur sosial suatu masyarakat. Ada masyarakat yang
    membantu para remaja ini dengan adat-istiadatnya sehingga masa remaja dilalui tanpa gangguan
    emosional yang berarti.
    Kebanyakan kebutuhan kita hanya dapat diperoleh melalui hubungan dengan orang-orang lain.
    Jadi cara kita berhubungan dengan orang lain sangat mempengaruhi kepuasan hidup kita.
    Kegagalan untuk mengadakan hubungan antar manusia yang baik mungkin berasal dari dan
    mengakibatkan juga kekurang partisipasi dalam kelompok dan kekurangan identifikasi dengan
    kelompok dan konformitas (persesuaian) yang berlebihan dengan norma-norma kelompok (seperti
    dalam “gang” atau perkumpulan-perkumpulan rahasia para remaja).
    Secara garis besar dapat dikatakan bahwa kemampuan utama dalam hidup dan dalam
    menyesuaikan diri memerlukan “penerapan” tentang beberapa masalah utama dalam hidup, seperti
    pernikahan, ke-orangtua-an, pekerjaan dan hari tua. Di samping kemampuan umum ini dalam
    bidang badaniah, emosional, sosial dan intelektual, kita memerlukan persiapan bagi masalah.
    Masalah khas yang mungkin sekali akan dihadapi dalam berbagai masa hidup kita.
    8. Faktor sosiologik dalam perkembangan yang salah
    Alfin Toffler mengemukakan bahwa yang paling berbahaya di zaman modern, di negara-negara
    dengan “super-industrialisasi”, ialah kecepatan perubahan dan pergantian yang makin cepat dalam
    hal “ke-sementara-an” (“transience”), “ke-baru-an” (“novelty”) dan “ke-aneka-ragaman”
    (“diversity”). Dengan demikian individu menerima rangsangan yang berlebihan sehingga
    kemungkinan terjadinya kekacuan mental lebih besar. Karena hal ini lebih besar kemungkiannya
    dalam masa depan, maka dinamakannya “shok masa depan” (“future shock”).
    Telah diketahui bahwa seseorang yang mendadak berada di tengah-tengah kebudayaan asing dapat
    mengalami gangguan jiwa karena pengaruh kebudayaan ini yang serba baru dan asing baginya.
    Hal ini dinamakan “shock kebudayaan” (“culture shock”).
    Seperti seorang inidvidu, suatu masyarakat secara keseluruhan dapat juga berkembang ke arah
    yang tidak baik. Hal ini dapat dipengaruhi oleh lingkungan fisik (umpamanya daerah yang dahulu
    subur berubah menjadi tandus) ataupun oleh keadaan sosial masyarakat itu sendiri (umpanya
    negara dengan pimpinan diktatorial, diskriminasi rasial.religius yang hebat, ketidak-adilan sosial,
    dan sebagainya). Hal-hal ini merendahkan daya tahan frustasi seluruh masyarakat (kelompok) dan
    menciptakan suasana sosial yang tidak baik sehingga para anggotanya secara perorangan dapat
    menjurus ke gangguan mental. Faktor-faktor sosiokultural membentuk, baik macam sikap individu
    dan jenis reaksi yang dikembangkannya, maupun jenis stres yang dihadapinya.
    9. Genetika :
    Menurut Cloninger, 1989 gangguan jiwa; terutama gangguan persepsi sensori dan gangguan
    psikotik lainnya erat sekali penyebabnya dengan faktor genetik termasuk di dalamnya saudara
    kembar, atau anak hasil adopsi. Individu yang memiliki anggota keluarga yang mengalami
    gangguan jiwa memiliki kecenderungan lebih tinggi dibanding dengan orang yang tidak memiliki
    faktor herediter.
    Individu yang memiliki hubungan sebagai ayah, ibu, saudara atau anak dari klien yang
    mengalami gangguan jiwa memiliki kecenderungan 10 %, sedangkan keponakan atau cucu
    kejadiannya 2-4 %. Individu yang memiliki hubungan sebagai kembar identik dengan klien yang
    mengalami gangguan jiwa memiliki kecenderungan 46-48 %, sedangkan kembar dizygot memiliki
    kecenderungan 14-17 %. Faktor genetik tersebut sangat ditunjang dengan pola asuh yang
    diwariskan sesuai dengan pengalaman yang dimiliki oleh anggota keluarga klien yang mengalami
    gangguan jiwa.
    10. Neurobiological
    Menurut Konsep Neurobiological gangguan jiwa sangat berkaitan dengan keadaan struktur
    otak sebagai berikut :
    Abnormalities in the structure of the brain or in its activity in specific locations can cause or
    contribute to psychiatric disorders. For example, a communication problem in one small part of
    the brain can cause widespread dysfunction. It is also known that the following network of nuclei
    that control cognitive, behavioral, and emotional functioning ae particularly implicated in
    psychiatric disorders :
    The cerebral cortex, which is critical in decision making and higher-order thinking, such as
    abstract reasoning.
    The limbic system, which is involved in regulating emotional behavior, memory, and learning.
    The basal ganglia, some of which coordinate movement
    The hypothalamus, which regulates hormones through out the body and behaviors such as
    eating, drinking, and sex.
    The locus ceruleus, which manufactures neurons, which regulate sleep and are involved with
    behavior and mood.
    The substantia nigra, dopamine-producing cells involved in the control of complex movement,
    thinking, and emotional responses.
    Klien yang mengalami gangguan jiwa memiliki ciri-ciri biologis yang khas terutama pada
    susunan dan struktur syaraf pusat, biasanya klien mengalami pembesaran ventrikel ke III sebelah
    kirinya. Ciri lainnya terutama adalah pada klien yang mengalami Schizofrenia memiliki lobus
    frontalis yang lebih kecil dari rata-rata orang yang normal (Andreasen, 1991).
    Menurut Candel, Pada klien yang mengalami gangguan jiwa dengan gejala takut serta
    paranoid (curiga) memiliki lesi pada daerah Amigdala sedangkan pada klien Schizofrenia yang
    memiliki lesi pada area Wernick’s dan area Brocha biasanya disertai dengan Aphasia serta
    disorganisasi dalam proses berbicara (Word salad).
    Adanya Hiperaktivitas Dopamin pada klien dengan gangguan jiwa seringkali menimbulkan
    gejala-gejala Schizofrenia. Menurut hasil penelitian, neurotransmitter tertentu seperti
    Norepinephrine pada klien gangguan jiwa memegang peranan dalam proses learning, Memory
    reiforcement, Siklus tidur dan bangun, kecemasan, pengaturan aliran darah dan metabolisme.
    Neurotransmitter lain berfungsi sebagai penghambat aktivasi dopamin pada proses pergerakan
    yaitu GABA.(Gamma Amino Butiric Acid).
    Menurut Singgih gangguan mental dan emosi juga bisa disebabkan oleh perkembangan
    jaringan otak yang tidak cocok (Aplasia). Kadang-kadang seseorang dilahirkan dengan
    perkembangan cortex cerebry yang kurang sekali, atau disebut sebagai otak yang rudimenter
    (Rudimentary Brain). Contoh gangguan tersebut terlihat pada Microcephaly yang ditandai oleh
    kecilnya tempurung otak.
    Adanya trauma pada waktu kelahiran, tumor, Infeksi otak seperti Enchepahlitis Letargica,
    gangguan kelenjar endokrin seperti thyroid, keracunan CO (carbon Monoxide)serta perubahanperubahan
    karena degenerasi yang mempengaruhi sistem persyarafan pusat.
    11. Biokimiawi tubuh
    Biochemistry. Several brain chemicals have been implicated in schizophrenia, but research to
    date points most strongly the following :
    AN excess of the neurotransmitter dopamine.
    An imbalance between dopamine and other neurotransmitters, particularly serotonin.
    Problems in the dopamine receptor systems several research strategies support the role of
    dopamine in schizophrenia. For instance, drugs that increase levels of dopamine in the brain
    can produce psychosis. Drugs that reduce dopamine function have antipsychotic effects as
    well. This is seen in the antipsychotic drugs that reduce the number of postsynaptic receptors
    that interact with dopamine.
    Birth Events. Many attempts have been made to study the influences of maternal nutrition,
    infection, placental insufficiency, anoxia, hemorrhage, and trauma before at birth as possible
    causes of schizophrenia.
    12. Neurobehavioral
    Kerusakan pada bagian-bagian otak tertentu ternyata memegang peranan pada timbulnya gejalagejala
    gangguan jiwa, misalnya:
    Kerusakan pada lobus frontalis: menyebabkan kesulitan dalam proses pemecahan masalah dan
    perilaku yang mengarah pada tujuan, berfikir abstrak, perhatian dengan manifestasi gangguan
    psikomotorik.
    Kerusakan pada Basal Gangglia dapat menyebabkan distonia dan tremor
    Gangguan pada lobus temporal limbic akan meningkatkan kewaspadaan, distractibility, gangguan
    memori (Short time).
    13. Stress :
    Stress psikososial dan stress perkembangan yang terjadi secara terus menerus dengan koping yang
    tidak efektif akan mendukung timbulnya gejala psikotik dengan manifestasi; kemiskinan,
    kebodohan, pengangguran, isolasi sosial, dan perasaan kehilangan.
    Menurut Singgih (1989:184), beberapa penyebab gangguan mental dapat ditimbulkan sebagai
    berikut :
    a. Prasangka orang tua yang menetap, penolakan atau shock yang dialami pada masa anak.
    b. Ketidak sanggupan memuasakan keinginan dasar dalam pengertian kelakuan yang dapat
    diterima umum.
    c. Kelelahan yang luar biasa, kecemasan, anxietas, kejemuan
    d. Masa-masa perubahan fisiologis yang hebat : Pubertas dan menopause
    e. Tekanan-tekanan yang timbul karena keadaan ekonomi, politik dan sosial yang terganggu
    f. Keadaan iklim yang mempengaruhi Exhaustion dan Toxema
    g. Penyakit kronis misalnya; shifilis, AIDS
    h. Trauma kepala dan vertebra
    i. Kontaminasi zat toksik
    j. Shock emosional yang hebat : ketakutan, kematian tiba-tiba orang yang dicintai.
    14. Penyalah gunaan obat-obatan :
    Koping yang maladaptif yang digunakan individu untuk menghadapi strsessor melalui obat-obatan
    yang memiliki sipat adiksi (efek ketergantungan) seperti Cocaine, amphetamine menyebabkan
    gangguan persefsi, gangguan proses berfikir, gangguan motorik dsb.
    15. Psikodinamik :
    Menurut Sigmund Freud adanya gangguan tugas pekembangan pada masa anak terutama dalam
    hal berhubungan dengan orang lain sering menyebabkan frustasi, konflik, dan perasaan takut,
    respon orang tua yang maladaptif pada anak akan meningkatkan stress, sedangkan frustasi dan
    rasa tidak percaya yang berlangsung terus-menerus dapat menyebabkan regresi dan withdral.
    Disamping hal tersebut di atas banyak faktor yang mendukung timbulnya gangguan jiwa yang
    merupakan perpaduan dari beberapa aspek yang saling mendukung yang meliputi Biologis,
    psikologis, sosial, lingkungan (environmental). Tidak seperti pada penyakit jasmaniah, sebabsebab
    gangguan jiwa adalah kompleks. Pada seseorang dapat terjadi penyebab satu atau beberapa
    faktor dan biasanya jarang berdiri sendiri. Mengetahui sebab-sebab gangguan jiwa penting untuk
    mencegah dan mengobatinya.
    Umumnya sebab-sebab gangguan jiwa dibedakan atas :
    a. Sebab-sebab jasmaniah/ biologik
    b. Sebab-sebab kejiwaan/ psikologik
    c. Sebab-sebab yang berdasarkan kebudayaan.
    Untuk mengetahui mana penyebab yang asli dan mana yang bukan perlu diketahui dua istilah :
    sebab yang memberikan predisposisi adalah faktor yang menyebabkan seseorang menjadi rentan/
    peka terhadap suatu gangguan jiwa (genetik, fisik atau latar belakang keluarga/ sosial. Sebab yang
    menimbulkan langsung atau pencetus adalah faktor traumatis langsung menyebabkan gangguan
    jiwa (kehilangan harta pekerjaan/ kematian, cendera berat, perceraian dan lain-lain.
    16. Sebab Biologik
    a. Keturunan
    Peran yang pasti sebagai penyebab belum jelas, mungkin terbatas dalam mengakibatkan kepekaan
    untuk mengalami gangguan jiwa tapi hal tersebut sangat ditunjang dengan faktor lingkungan
    kejiwaan yang tidak sehat.
    b. Jasmaniah
    beberapa penyelidik berpendapat bentuk tubuh seorang berhubungan dengan gangguan jiwa
    tertentu, Misalnya yang bertubuh gemuk / endoform cenderung menderita psikosa manik defresif,
    sedang yang kurus/ ectoform cenderung menjadi skizofrenia
    c. Teperamen
    Orang yang terlalu peka/ sensitif biasanya mempunyai masalah kejiwaan dan ketegangan yang
    memiliki kecenderungan mengalami gangguan jiwa.
    d. Penyakit dan cedera tubuh
    Penyakit-penyakit tertentu misalnya penyakit jantung, kanker dan sebagainya, mungkin
    menyebabkan merasa murung dan sedih. Demikian pula cedera/cacat tubuh tertentu dapat
    menyebabkan rasa rendah diri.
    d. Irama sirkardian tubuh
    Circadian Rhythms : The recognition that human activities and behaviors such as sleeping, eating,
    body temperature, menses, and mood are cyclical and tend to be correlated with certain external
    environmental stimuli is not new. Recently, biological research has hypothesized that these body
    rhythms are governed by internal circadian pacemakers located in specific areas of the brain and
    that they ae subject to change by specific external cues.
    17. Sebab Psikologik
    Bermacam pengalaman frustasi, kegagalan dan keberhasilan yang dialami akan mewarnai sikap,
    kebiasaan dan sifatnya dikemudian hari. Hidup seorang manusia dapat dibagi atas 7 masa dan
    pada keadaan tertentu dapat mendukung terjadinya gangguan jiwa.
    a. Masa bayi
    Yang dimaksud masa bayi adalah menjelang usia 2 th – 3 th. , dasar perkembangan yang dibentuk
    pada masa tersebut adalah sosialisasi dan pada masa ini timbul dua masalah yang penting yaitu :
    Cara mengasuh bayi
    Cinta dan kasih sayang ibu akan memberikan rasa hangat/ aman bagi bayi dan dikemudian hari
    menyebabkan kepribadian yang hangat, terbuka dan bersahabat. Sebaliknya, sikap ibu yang dingin
    acuh tak acuh bahkan menolak dikemudian hari akan berkembang kepribadian yang bersifat
    menolak dan menentang terhadap lingkungan.
    Cara memberi makan
    Sebaiknya dilakukan dengan tenang, hangat yang akan memberi rasa aman dan dilindungi,
    sebaliknya, pemberian yang kaku, keras dan tergesa-gesa akan menimbulkan rasa cemas dan
    tekanan.
    b. Masa anak pra sekolah (antara 2 sampai 7 tahun)
    Pada usia ini sosialisasi mulai dijalankan dan telah tumbuh disiplin dan otoritas.
    Hal-hal yang penting pada saat ini adalah :
    Hubungan orang tua – anak
    Penolakan orang tua pada masa ini, yang mendalam atau ringan, akan menimbulkan rasa tidak
    aman dan ia akan mengembangkan cara penyesuaian yang salah, dia mungkin menurut, menarik
    diri atau malah menentang dan memberontak.
    Perlindungan yang berlebihan
    Menunjukkan anak atau memaksakan kehendak/ mengatur dalam segala hal, mengakibatkan
    kepribadian sianak tidak berkembang secara wajar waktu dewasa, memiliki krpribadian yang
    mantap, cenderung mementingkan diri sendiri dan akibatnya kurang berhasil sebagai orang tua.
    Perkawinan tak harmonis dan kehancuran rumah tangga
    Anak tidak mendapat kasih sayang. Tidak dapat menghayati disiplin tak ada panutan, pertengkaran
    dan keributan membingungkan dan menimbulkan rasa cemas serta rasa tidak aman. hal-hal ini
    merupakan dasar yang kuat untuk timbulnya tuntutan tingkah laku dan gangguan kepribadian pada
    anak dikemudian hari.
    Otoritas dan Disiplin
    Disiplin diberikan sesuai dengan kemampuan dan tingkat kematangan anak, diberikan dengan cara
    yang baik, tegas dan konsisten, sehingga anak menerima sebagai hal yang wajar. Disiplin yang
    diluar kemampuan sianak, dipaksakan, dengan cara yang keras dan kaku, menyebabkan anak akan
    melawan memberontak atau menuntut berlebihan. Sebaliknya disiplin yang tidak tegas secara
    mental, latihan yang keras, akan menyebabkan rasa cemas, rasa tidak aman dan kemudian hari
    mungkin menjadi nakal, keras kepala dan selalu ingin kesempurnaan (perfeksionis).
    Perkembangan seksual
    Pendekatan yang sehat, kesediaan untuk memberi jawaban secara jelas, terus terang, wajar dan
    objektif terhadap masalah seksual pada anak akan mengembangkan sikap yang positif. Reaksi
    orang tua yang menyebabkan anak menganggap sek adalah tabu, menjijikan, memalukan dan
    sebagainya akan merupakan awal kesulitan seksual dikemudian hari.
    Agresi dan cara permusuhan
    Merupakan hal yang wajar seorang anak akan mengembangkan pola-pola yang berguna.
    Pengawasan yang berlebihan, menyebabkan anak akan mengekang, sehingga timbul tingkah laku
    yang mengganggu. Agresi dan permusuhan yang diterima anak akan menyebabkan sikap defens
    dan mau menag sendiri. Sedangkan sikap yang longgar akan menyebabkan anak menjadi nakal
    dan terbiasa dengan perbuatan-perbuatan yang mengganggu ketertiban.
    Hubungan kakak-adik
    Persaingan yang sehat antara adik – kakak merupakan hal yang wajar dan menjadi dasar untuk
    tumbuh dan berkembang secara baik. Persaingan yang tidak sehat dan berlebihan (pilih kasih,
    menghukun tanpa meneliti, prasangka, kompensasi berlebihan dan sebagainya) akan merupakan
    dasar terbentuknya sifat –sifat yang merugikan. orang tua harus besikap dan menjadi penengah
    bagi anak-abaknya. Jangan menjadi pendorong timbulnya persaingan tidak sehat ini.
    Kekecewaan dan pengalaman yang menyakitkan.
    Kematian, kecelakaan, sakit berat, penceraian, perpindahan yang mendadak, kekecewaan yang
    berlarut-larut dan sebagainya akan mempengaruhi perkembangan kepribadian, tapi juga
    tergantung pada keadaan sekitarnya (orang, lingkungan atau suasana saat itu) apakah mendukung
    atau mendorong dan juga tergantung pada pengalamannya dalam menghadapi masalah tersebut.
    c. Masa Anak sekolah
    Masa ini ditandai oleh pertumbuhan jasmaniah dan intelektual yang pesat. Pada masa ini, anak
    mulai memperluas lingkungan pergaulannya. Keluar dari batas-batas keluarga.
    Masalah-masalahn penting yang timbul :
    Perkembangan jasmani
    Kekurangan atau cacat jasmaniah dapat menimbulkan gangguan penyesuaian diri. Dalam hal ini
    sikap lingkungan sangat berpengaruh, anak mungkin menjadi rendah diri atau sebaliknya
    melakukan komprensasi yang positif atau komprensasi negatif.
    Penyesuaian diri di sekolah dan sosialisasi
    Sekolah adalah tempat yang baik untuk seorang anak mengembangkan kemampuan bergaul dan
    memperluas sosialisasi, menguji kemampuan, dituntut prestasi, mengekang atau memaksakan
    kehendaknya meskipun tak disukai oleh sianak.
    d. Masa Remaja
    Secara jasmaniah, pada masa ini terjadi perubahan-perubahan yang penting yaitu timbulnya tandatanda
    sekunder (ciri-ciri diri kewanitaan atau kelaki-lakian)
    Sedang secara kejiwaan, pada masa ini terjadi pergolakan pergolakan yang hebat. pada masa ini,
    seorang remaja mulai dewasa mencoba kemampuannya, disuatu fihak ia merasa sudah dewasa
    (hak-hak seperti orang dewasa), sedang dilain fihak belum sanggup dan belum ingin menerima
    tanggung jawab atas semua perbuatannya.
    Egosentrik bersifat menetang terhadap otoritas, senang berkelompok, idealis adalah sifat-sifat
    yang sering terlihat. Suatu lingkungan yang baik dan penuh pengertian akan sangat membantu
    proses kematangan kepribadian di usia remaja.
    e. Masa Dewasa muda
    Seorang yang melalui masa-masa sebelumnya dengan aman dan bahagia akan cukup memiliki
    kesanggupan dan kepercayaan diri dan umumnya ia akan berhasil mengatasi kesulitan-kesulitan
    pada masa ini. Sebaliknya yang mengalami banyak gangguan pada masa sebelumnya, bila
    mengalami masalah pada masa ini mungkin akan mengalami gangguan-gangguan jiwa. Masalahmasalah
    yang penting pada masa ini adalah :
    Hubungan dengan lawan jenis
    Masa ini dimulai dari masa pacaran, menikah dan menjadi orang tua beberapa faktor yang
    mungkin menyulitkan suatu perkawinan :
    Perasaan takut dan bersalah mengenai perkawinan dan kehamilan
    Perasaan takut untuk berperan sebagai orang tua ketidak sanggupan mempunyaai anak
    Perbedaan harapan akan berperan masing-masing (tak ada penyesuaian baru dalam tingkah
    laku / berpikir)
    Masalah-masalah keuangan
    Gangguan-gangguan dari keluarga
    Pemilihan dan penyesuaian pekerjaan
    Pekerjaan sebaiknya dipilih berdasar bakat dan minat sendiri pemilihan yang semata-mata dipaksa
    / disuruh / kompensasi atau karena “kesempatan dan kemudahan” sering mempermudah gangguan
    penyesuaian dalam pekerjaan. Gangguan berupa rasa malas, sering bolos, timbul bermacam
    keluhan jasmani (sering sakit) sering mengalami kecelakaan dalam pekerjaan dan terlihat
    ketegangan-ketegangan dalam keluarga karena jadi pemarah dan mudah tersinggung.
    f. Masa dewasa tua
    Sebagai patokan masa ini dicapai kalau status pekerjaan dan sosial seseorang sudah mantap.
    Masalah-masalah yang mungkin timbul :
    Menurunnya keadaan jasmaniah
    Perubahan susunan keluarga (berumah tangga, bekerjan) maka orang tua sering kesepian
    Terbatasnya kemungkinan perubahan-perubahan yang baru dalam bidang pekerjaan atau
    perbaikan kesalahan yang lalu.
    Penurunan fungsi seksual dan reproduksi,
    Sebagian orang berpendapat perubahan ini sebagai masalah ringan seperti rendah diri. pesimis.
    Keluhan psikomatik sampai berat seperti murung, kesedihan yang mendalam disertai
    kegelisahan hebat dan mungkin usaha bunuh diri.
    g. Masa Tua
    Ada dua hal yang penting yang perlu diperhatikan pada masa ini
    Berkurangnya daya tanggap, daya ingat, berkurangnya daya belajar, kemampuan jasmaniah dan
    kemampuan sosial ekonomi menimbulkan rasa cemas dan rasa tidak aman serta sering
    mengakibatkan kesalah pahaman orang tua terhadap orang dilingkungannya.Perasaan terasing
    karena kehilangan teman sebaya keterbatasan gerak dapat menimbulkan kesulitan emosional yang
    cukup hebat.
    18. Sebab sosio kultural
    Kebudayaan secara teknis adalah ide atau tingkah laku yang dapat dilihat maupun yang tidak
    terlihat. Faktor budaya bukan merupakan penyebab langsung menimbulkan gangguan jiwa,
    biasanya terbatas menentukan “warna” gejala-gejala. Disamping mempengaruhi pertumbuhan dan
    perkembangan kepribadian seseorang misalnya melalui aturan-aturan kebiasaan yang berlaku
    dalam kebudayaan tersebut. Beberapa faktor-faktor kebudayaan tersebut :
    Cara-cara membesarkan anak
    Cara-cara membesarkan anak yang kaku dan otoriter , hubungan orang tua anak menjadi kaku dan
    tidak hangat. Anak-anak setelah dewasa mungkin bersifat sangat agresif atau pendiam dan tidak
    suka bergaul atau justru menjadi penurut yang berlebihan.
    Sistem Nilai
    Perbedaan sistem nilai moral dan etika antara kebudayaan yang satu dengan yang lain, antara masa
    lalu dengan sekarang sering menimbulkan masalah-masalah kejiwaan. Begitu pula perbedaan
    moral yang diajarkan dirumah / sekolah dengan yang dipraktekkan di masyarakat sehari-hari.
    Kepincangan antar keinginan dengan kenyataan yang ada
    Iklan-iklan diradio, televisi. Surat kabar, film dan lain-lain menimbulkan bayangan-bayangan yang
    menyilaukan tentang kehidupan modern yang mungkin jauh dari kenyataan hidup sehari-hari.
    Akibat rasa kecewa yang timbul, seseorang mencoba mengatasinya dengan khayalan atau
    melakukan yang merugikan masyarakat.
    Ketegangan akibat faktor ekonomi dan kemajuan teknologi
    Dalam masyarakat modern kebutuhan makin meningkat dan persaingan makin meningkat dan
    makin ketat untuk meningkatkan ekonomi hasil-hasil teknologi modern. Memacu orang untuk
    bekerja lebih keras agar dapat memilikinya.
    Jumlah orang yang ingin bekerja lebih besar dari kebutuhan sehingga pengangguran meningkat,
    demikian pula urbanisasi meningkat, mengakibatkan upah menjadi rendah. Faktor-faktor gaji yang
    rendah, perumahan yang buruk, waktu istirahat dan berkumpul dengan keluarga sangat terbatas
    dan sebagainya merupakan sebagian mengakibatkan perkembangan kepribadian yang abnormal.
    Perpindahan perpindahan kesatuan keluarga
    Khusus untuk anak yang sedang berkembang kepribadiannya, perubahan-perubahan lingkungan
    (kebudayaan dan pergaulan). Hal ini cukup mengganggu.
    Masalah golongan minoritas
    Tekanan-tekanan perasaan yang dialami golongan ini dari lingkungan dapat mengakibatkan rasa
    pemberontakan yang selanjutnya akan tampil dalam bentuk sikap acuh atau melakukan tindakantindakan
    akan yang merugikan orang banyak.
    B. PROSES PERJALANAN PENYAKIT ;
    Gejala mulai timbul biasanya pada masa remaja atau dewasa awal sampai dengan umur
    pertengahan dengan melalui beberapa fase antara lain :
    1. Fase Prodomal
    Berlangsung antara 6 bula sampai 1 tahun
    Gangguan dapat berupa Self care, gangguan dalam akademik, gangguan dalam pekerjaan,
    gangguan fungsi sosial, gangguan pikiran dan persepsi.
    2. Fase Aktif
    Berlangsung kurang lebih 1 bulan
    Gangguan dapat berupa gejala psikotik; Halusinasi, delusi, disorganisasi proses berfikir,
    gangguan bicara, gangguan perilaku, disertai kelainan neurokimiawi
    3. Fase Residual
    Kien mengalami minimal 2 gejala; gangguan afek dan gangguan peran, serangan biasanya
    berulang.
    C. TAHAPAN HALUSINASI DAN DELUSI YANG BIASA MENYERTAI GANGGUAN
    JIWA
    Menurut Janice Clack,1962 klien yang mengalami gangguan jiwa sebagian besar disertai
    Halusinasi dan Delusi yang meliputi beberapa tahapan antara lain :
    1. Tahap Comforting :
    Timbul kecemasan ringan disertai gejala kesepian, perasaan berdosa, klien biasanya
    mengkompensasikan stressornya dengan coping imajinasi sehingga merasa senang dan terhindar
    dari ancaman.
    2. Tahap Condeming :
    Timbul kecemasan moderate , cemas biasanya makin meninggi selanjutnya klien merasa
    mendengarkan sesuatu, klien merasa takut apabila orang lain ikut mendengarkan apa-apa yang ia
    rasakan sehingga timbul perilaku menarik diri (With drawl)
    3. Tahap Controling :
    Timbul kecemasan berat, klien berusaha memerangi suara yang timbul tetapi suara tersebut terusmenerus
    mengikuti, sehingga menyebabkan klien susah berhubungan dengan orang lain. Apabila
    suara tersebut hilang klien merasa sangat kesepian/sedih.
    4. Tahap Conquering :
    Klien merasa panik , suara atau ide yang datang mengancam apabila tidak diikuti perilaku klien
    dapat bersipat merusak atau dapat timbul perilaku suicide.
    D. PSIKOPATOLOGI DAN PATOFISIOLOGI
    Perubahan-perubahan apakah yang terjadi pada susunan saraf pusat (otak) pasien skizofrenia ?
    Penelitian mutakhir menyebutkan bahwa perubahan-perubahan pada neurotransmiter dan resptor di
    sel-sel saraf otak (neuron) dan interaksi zat neurokimia dopamin dan serotonin, ternyata
    mempengaruhi alam pikir, perasaan, dan perilaku yang menjelma dalam bentuk gejala-gejala positif
    dan negatif skizofrenia.
    Selain perubahan-perubahan yang sifatnya neurokimiawi di atas, dalam penelitian dengan
    menggunakan CT Scan otak, ternyata ditemukan pula perubahan pada anatomi otak pasien, terutama
    pada penderita kronis. Perubahannya ada pada pelebaran lateral ventrikel, atrofi korteks bagian depan,
    dan atrofi otak kecil (cerebellum).
    REFERENSI
    Budi Ana Keliat, Peran Serta Keluarga Dalam Perawatan Klien Gangguan Jiwa, Buku Kedokteran,
    1992
    Antai Otong Deborah (1995). Psychiatric Nursing. Philadelphia : W.B. Company
    Gestrude K. Mc. Farland (1991). Psychiatric Mental Health Nursing. Philadelphia : J. B. Lippincot Company
    W.E., Maramis, Ilmu Kedokteran Jiwa, Airlangga Press, Surabaya, 1990
    John Santrock, Psychology The Sciences of Mind and behavior, University of dallas, Brown Publiser , 1999
    Hunsberg and Abderson (1989). Psychiatric Mental Health Nursing, Philadelphia : W.B. Saunders Company.
    Clinton and Nelson, Mental Health Nursing Practice, Prentice hall Australia, Pty Ltd. 1996
    Stuart Sundeen, Pocket Guide to Psychiatric Nursing, Mosby year 1995
    Stuart Sundeen, Psychiatric Nursing, Mosby year, 1995
    Antai otong (1994) Psychiatric Nursing : Biological and Behavioral Concepts. Philadelpia: W B Saunders
    Company
    Lefley (1996). Family Caregiving in Mental Illness. London : SAGE Publication
    Maccoby, E, 1980, Social Development, Psychological Growth and the Parent Child Relationship, Harcourt
    Jovanovich, Newyork
    Stuart GW Sundeen, 1995, Principle and practice of Psychiatric Nursing, Mosby Year Book, St. Louis, ,
    Hurlock, 1999, Psikologi Perkembangan, Erlangga, Jakarta
    PROSES TERJADINYA GANGGUAN JIWA
    Oleh :
    Iyus yosep, SKp., MSi
    Mengetahui
    Kepala Bagian Keperawatan Jiwa
    Suryani, SKp., MHSc.
    DISAMPAIKAN PADA :
    PENYULUHAN KESEHATAN JIWA DAN BAHAYA NAPZA
    DI DESA LEGOK KIDUL KECAMATAN PASEH
    KABUPATEN SUMEDANG
    20 JANUARI 2008